Selasa, 18 Agustus 2009

Islam Bukan Faktor Lahirnya Terorisme

Jumat, 14 Agustus 2009 | 03:29 WIB

Jakarta, Kompas - Islam bukan menjadi faktor yang mendorong lahirnya terorisme. Jadi, sangat tidak tepat jika menelusuri jejak teroris dengan melihat latar belakang pendidikan, kemudian menggeneralisasi semua orang yang pernah belajar di tempat yang sama merupakan teroris.

”Pandangan semacam ini merupakan kesimpulan dari generalisasi yang sangat tak bisa dipertanggungjawabkan,” ujar guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Bahtiar Effendy, dalam diskusi ”Terorisme di Tengah Masyarakat Modern” di Jakarta, Kamis (13/8).

”Kita tidak bisa mengatakan orang yang belajar di pesantren merupakan teroris. Hanya karena pelaku peledak bom pernah belajar di Pesantren Ngruki yang diasuh Abu Bakar Ba’asyir,” ujar Bahtiar.

Jika logika generalisasi ini diikuti, menurut Bahtiar, karena Abu Bakar Ba’asyir yang pernah belajar di Pesantren Gontor, teman belajarnya juga dicurigai karena mempelajari buku dan kurikulum yang sama.

”Padahal, almarhum Nurcholish Madjid, Din Syamsuddin juga pernah menimba ilmu di Pesantren Gontor. Apakah mereka juga teroris?” katanya.

Produser senior Canadian Broadcasting Corporation, Nazim Baksh, mengatakan, untuk mengenali pelaku teror bisa dilakukan dengan melihat latar belakang di mana mereka pernah belajar. ”Kita bisa melihat siapa saja yang menanamkan pikiran radikal pada pelaku teror itu,” ujarnya.

Menurut Nazim, dengan mengetahui latar belakang lingkungan, akan bisa diketahui pola pikirnya sehingga bisa dilakukan langkah antisipasi.

”Lingkungan itu bisa keluarga, sekolah, dan masyarakatnya,” katanya. (MAM)

Minggu, 14 Juni 2009

Kisah Abdul Rahman menjadi Muslim

Seseorang yang baru masuk Islam, kadang menghadapi proses yang sulit dan membingungkan. Para mualaf ini tak jarang harus menghadapi reaksi keras dari pihak keluarga atau menemui kesulitan untuk sekedar menemukan toko terdekat yang menjual daging halal.

Untuk membantu para mualaf baru ini melewati masa transisi, Muslim di Wales membuat proyek yang disebut New Muslim Project Wales (NMPW). Proyek ini juga menawarkan kelas-kelas pendidikan agama Islam, menggelar kegiatan sosial dan sistem pertemanan atau pendampingan bagi para mualaf baru.

Proyek ini digagas oleh Richard Fairclough, yang setelah masuk Islam bernama Abdul Rahman bersama sesama mualaf lainnya. Abdul Rahman, 57, membuat inisiatif ini berdasarkan kegiatan serupa yang dilakukan oleh New Muslim Project di wilayah Inggris Raya.

NMPW berusaha mendata para mualaf-mualaf baru di seluruh Wales dan dari data tersebut, terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah mualaf dalam jangka waktu yang cukup cepat. "Saya tidak ingin main-main dengan jumlah angka ... tapi saya tercengang ketika memperbaharui database ternyata terjadi peningkatan jumlah mualaf yang cukup cepat," kata Abdul Rahman seperti dikutip WalesOnline.

Menjadi Seorang Muslim

Abdul Rahman sendiri, sebelum masuk Islam adalah seorang Kristiani yang aktif dan taat. Suatu ketika ia pindah ke Afrika Selatan dan mendengar adzan. Ia sangat terkesan mendengar panggilan salat itu dan mulai tertarik untuk mengetahui lebih dalam figur Rasulullah Muhammad saw.

"Saya tiba disana (Capetown, ibukota Afrika Selatan) pada tahun 1992, tak berapa lama setelah sistem apartheid di negeri itu dihapus. Saya sering melihat sekelompok Muslim kulit hitam disana ... dan saya perhatikan setiap hari Jumat, banyak toko milik Muslim tutup dan mereka melakukan kegiatan ibadah," kisah Abdul Rahman mengenang pengalamannya saat di Afrika Selatan.

Ia melanjutkan ceritanya,"Di lingkungan saya, ada tiga atau empat masjid. Saya sering mendengar adzan, dan kedengarannya indah sekali ... lalu saya mendengar kisah tentang Nabi Muhammad dan saya tertarik untuk mengetahuinya lebih jauh."

"Saya punya kepercayaan dan keyakinan sebagai seorang Kristiani, tapi yang temukan dalam Islam tenyata lebih simpel dan tidak bertele-tele," ujar Abdul Rahman.

Abdul Rahman mengucapkan dua kalimat syahadat pada tahun 2002 ketika ia kembali ke Wales. Pengalamannya menjalani kehidupan baru sebagai seorang Muslim, menjadi bekal baginya untuk membantu para mualaf baru yang menghadapi masalah dengan keluarganya.

Abdul Rahman mengatakan, bahwa seseorang yang baru masuk Islam juga harus meninggalkan kebiasaan hidupnya yang lama, yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, misalnya berhenti minum-minuman beralkohol. Itu artinya orang bersangkutan juga akan mengalami perubahan dalam kebiasaan sosialnya bahkan mungkin harus mencari teman baru.

"Sebagai Muslim, saya tidak minum minuman beralkohol karena Allah melarangnya seperti yang disebutkan dalam al-Quran. Itu artinya saya harus menjaga jarak dengan semua teman-teman yang dulu biasa pergi minum-minum dengan saya," kata Abdul Rahman.

Ia menambahkan, "Sebagai mualaf, seseorang harus bisa menghadapi reaksi negatif, misalnya dari media massa yang kerap menggambarkan umat Islam sebagai teroris, yang dengan segala keyakinannya menjadi seorang yang fanatik, menginterpretasikan segala sesuatunya dengan negatif dan mungkin mengatasnamakan agama untuk membenarkan perbuatannya."

"Tapi itu semua tidak selalu benar, karena mayoritas umat Islam tidak seperti itu," sambung Abdul Rahman.

Ia menekankan, bahwa proyek bimbingan untuk para mualaf baru yang dikelolanya hanya untuk para mualaf yang usianya sudah dewas dan memutuskan masuk Islam atas keinginannya sendiri. Para mualaf baru yang bergabung dengan proyek ini mendapatkan paket berisi sajadah, al-quran dan buku biografi Nabi Muhammad saw. Para anggotanya juga bisa ikut serta dalam layanan milis agar bisa menjalin komunikasi dengan para mualaf lainnya.

"Kami tidak sedang membuat orang pindah agama. Mereka adalah orang-orang dewasa yang membuat keputusannya sendiri dan mereka ingin tahu dimana letak masjid terdekat, dimana mereka bisa beli daging halal dan pakaian apa yang selayaknya mereka pakai," tukas Abdul Rahman.

"Kami tidak berkeliling dari pintu-pintu. Seorang Muslim akan mengetuk pintu rumah Anda, hanya untuk menawarkan bantuan," ujarnya.

Meski prioritas utamanya adalah para mualaf, proyek yang digagas Abdul Rahman juga membuka pintu untuk mereka yang terlahir sebagai Muslim dan ingin belajar lebih dalam tentang agama Islam, atau mereka yang selama ini merasa tersesat dan ingin kembali ke jalan yang lurus. (ln/aby)

dikutip dari :http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/abdul-rahman-mualaf-yang-membimbing-para-mualaf.htm

Sabtu, 11 April 2009

Bisara Mahmud Sianturi"Berdebat dan Masuk Islam"

Nama saya Bisara Mahmud Sianturi, kelahiran Tapanuli Utara. Keluarga saya pemeluk Kristen yang taat. Ayah saya, Mangantar Sianturi, bekerja sebagai mandor di perkebunan kelapa sawit, Jambi. lbu saya, Delima Boruhombing, seorang ibu rumah tangga biasa. Saya sulung dari lima bersaudara, satu laid-laki dan tiga perempuan.Masa kecil saya sangat kental dipengaruhi ajaran Kristen. Orang tua kami sangat keras dalam hal agama. Mereka selalu menyuruh saya agar rajin ke gereja. Ayah juga seorang pengurus gereja. Kakek saya sendiri, pendiri Gereja HKI (Huria Kristen Indonesia) pertama di Indonesia sebelum pecah menjadi HKBP (Huria Kristen Batak Protestan).
Sebagaimana anak-anak lain di kampung mayoritas Kristen, saya tak luput memperoleh pelajaran agama. Salah satu penanaman doktrin ajaran Kristen yang membekas hingga kini adalah, "Tak ada umat manusia yang layak sampai ke Tuhan di surga tanpa melalui Yesus." Atau dengan kata lain, semua umat manusia adalah musuh Tuhan jika mereka tidak mengikuti ajaran Yesus. Saat itu, saya yakin benar dengan ajaran tersebut.
Perubahan mulai terjadi kira-kira tahun 1967, ketika ayah pensiun dan kemudian pindah ke Lubuk Pakam, Sumatra Utara. Di sini pula saya mulai mengenal Islam lewat teman-teman sekelas.
Menghadap Walikota Medan
Suatu hari, saya merasa sedih melihat anak-anak seusia saya yang tidak sekolah. Mereka sedikit sekali yang tamat SMP, sebagian benar hanya tamat SD. Mereka terpaksa putus sekolah karena membantu mencari nafkah orang tuanya. Banyak dari mereka yang bekerja di Pabrik Karet PT Asahan. Bahkan, salah satu tetangga saya sempat bercerita bahwa pekerjaannya sangat berat, namun upah yang diterimanya minim sekalL Katanya, banyak yang tidak kuat. Tetapi mereka tdak berdaya, karena didesak oleh kebutuhan hidup.
Tanpa pikir panjang, saya segera berangkat ke Medan untuk menghadap wali kota. Tetapi, niat saya itu tidak segera terwujud, karena ditolak ajudan dengan alasan wali kota berada di luar kota. Saya tidak putus asa. Pada hari lain, saya datang lagi dengan maksud yang sarna. Tetapi, tetap tidak berhasil. Saya datang lagi, hingga lima kali berkunjung, dan keenam. kalinya saya diterima langsung oleh wali kota.
Di hadapan wali kota, saya ceritakan semuanya. Rupanya, wall kota sudah mengetahui itu. Dia berjanji akan segera membantu. Karena waktu itu, negara kita masih kacau setelah dilanda G30S/PKI, maka belum bisa dilaksanakan. Saya pun mengerti. Namun, setelah itu, wali kota menawarkan saya tinggal di rumahnya. Saya setuju, karena dengan mudah bisa bertemu dengannya.
Berdebat dan Masuk Islam
Sore itu, secara tak sengaja saya memperkenalkan ajaran Kristen pada anak wali kota. Tak lupa, saya ajarkan pula lagu-lagu gereja. Tetapi, misi saya itu diketahui oleh H. Nurdin (mertua wali kota). "Saya tertarik cucu saya kamu ajarkan lagu-lagu gereja dengan baik" kata H. Nurdin ketika itu.
Saya kaget, karena tak mengira ia mendengarkan. "Coba tunjukkan pada saya kebenaran ajaran Kristen melalui injil," lanjutnya. "Kalau memang ada kebenaran, saya tak keberatan cucu saya kamu bawa ke gereja," tantangnya.
H. Nurdin kemudian menunjuk segelas teh di atas meja, "Coba jawab, duluan mana air atau Tuhan?" katanya memancing. Saya menjawab enteng, "Jelas duluan Tuhan."
"Kalau menurut ajaran kamu begitu, berarti kamu pembohong! Karena Tuhan kamu baru lahir belum ada dua ribu tahun lalu. Sedangkan air ini adanya sudah lama sekali. jadi, ajaran agama kamu itu bohong," tegasnya.
Saya masih bisa mengelak dengan mengatakan bahwa yang dimaksud baru lahir belum ada dua ribu tahun adalah Tuhan Yesus. Tetapi, H. Nurdin menyangkal lagi, "Kalau Tuhan Anak belakangan dan Tuhan Bapak duluan, maka itu tidak mungkin, karena tuhan kamu adalah tiga yang tidak terpisah, seperti air, teh, dan gulanya, menjadi satu. Jadi, kalau tumpah, katakanlah setetes, maka semuanya ikut tumpah, baik airnya, tehnya, maupun gulanya. Tidak mungkin hanya tehnya saja, atau gulanya saja yang tumpah, sementara airya tetap di gelas," jelasnya.
Mendengar uraian itu, hati kecil saya tak menolak. Selanjutnya dia menjelaskan lagi bahwa dalam Injil, Nabi Isa menyebutkan adanya seorang pengganti di masa datang sebagai pengganti Yesus. Saya akui itu. Tetapi, sepengetahuan saya, yang dimaksud pengganti di masa mendatang adalah Yesus. Sementara, di sekte lain, penggantinya adalah Elias. Lalu, sekte lain seperti Pantekosta menyatakan Roh Kudus.
Namun H. Nurdin mengatakan adalah Nabi Muhammad saw, Saya tak bisa pungkiri, setelah kutemukan dalam Injil Yohanes ayat 23 yang berbunyi, "Berbahagialah kalian kalau Aku kembali kepada Bapa di surga, karena kalau Aku tidak kembali, maka pengganti-Ku tidak akan datang. Apabila Aku kembali, Aku akan menyuruh dia datang kepadamu untuk menegakkan hukum dan kebenaran. Ikutilah Dia, karena memang Dia berkata menurut perintah Bapa di surga."
Kebenaran Kristen juga dipertanyakan H. Nurdin. Mengapa ajaran yang dibawa oleh satu orang utusan, tetapi tidak ada tata cara yang pasti dalam menyembah Tuhan. Artinya, yang membawa ajaran Kristen tidak memberi contoh yang pasti dan baku tentang bagaimana cara menyembah Tuhan yang sebenarnya. "Lihat cara ibadah khusus Katolik, mengapa lain dengan Protestan, Pantekosta, juga Advent? Padahal yang membawa ajaran satu orang," tuturnya.
Lalu, ia membandingkan bahwa caranya shalat umat Islam di seluruh dunia itu sama. Ucapan-ucapan dalam shalat juga sama. Mendengar penjelasan itu, saya mulai ragu terhadap ajaran Kristen. Apalagi ketika H. Nurdin menjelaskan banyak ayat-ayat Injil yang tidak pernah diikuti oleh orang Kristen sendiri, seperti perintah sunat (khitan), haramnya memakan daging babi, dan kewajiban memakai kerudung bagi kaurn wanita, dan lain-lain.
Perintah yang dilanggar itu setelah datang Paulus yang menyuruh tidak bersunat. Katanya, Paulus sudah mendapatkan wahyu. Padahal, Paulus itu tak ada hubungannya dengan Yesus, terpaut kurang lebih 500 tahun.
Setelah mendapatkan keterangan yang begitu mendalam, akhirnya, kebekuan hati saya mulai mencair Saya menerima kebenaran Islam. Alhamdulillah, sejak itu aku mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat, dan resmi menganut agama Islam. (Agus Salam/dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com

Rabu, 08 Oktober 2008

Rasionalitas Al Qur'an

Assalamu’alaikum warah matullahi wabaraakatu…
Islam adalah yang tidak terikat dengan territorial geografis dan tidak terikat dengan suku,bangsa,etnis,rasis atau nasionalisme.islam adalah agama yang tidak terikat dengan ideology apapun apalagi ideology materialistis.atau ideology kepentingan.bahkan islam tidak terikat dengan hubungan darah keturunan,yang mengikat islam adalah Allah swt dan Rasulullah saw.
Maka yang paling mulia disisi Allah bukan siapa yang berbicara atau yang mendengar,bukan siapa yang tua atau yang muda tapi siapa yang paling pandai,paling pintar dan paling gemar mendekatkan diri kepadanya. Taqwa adalah penilaian yang paling Obyektif,bahkan Rasulullah pernah bersabda “hamba Allah yang paling bertaqwa adalah mereka yang selalu ingat dengan mati dan mempersiapkan hidup sesudah mati”.

Saya akan mengutip sedikit isi muzakarah dari ulama’ kita uzt Arifin Ilham :
Pernah Prop.Loard berkata “semakin maju zaman semakin tinggi tingkat kebudayaan dan peradaban umat manusia,semakin luas otoritas intelektual manusia dan lambat laun tapi pasti maka dengan pasti manusia berlomba lomba meninggalkan agamanya masing masing”.ada dua factor yang menyebabkan fenomena yang agtresif ini,
yang pertama mereka menganggap agama sudah tidak sanggup lagi menjawab kebutuhan umat manusia dan tidak lagi sesuai dengan zaman.akibatnya mereka mencari solusi dan alternative lain yang mampu menjawab problema tersebut.sengaja atau tidak sengaja sadar atau tidak sadar lahirlah agama baru atau mereka sendiri yang melahirkan agama baru itu.materialisme,skulerisme,idealisme dan dalam konteks bahasa kenabian yaitu “cinta dunia yang sangat-sangat berlebihan dan akibatnya mereka takut mati”. Disisi lain mereka menganggap agama hanyalah mitos-mitos lama,cerita-cerita sacral dan kalau yang ada hanyalah ritual rutinitas bukan ritual yang berkualitas.boleh jadi Allahuakbar di atas hamparan sejadah,Allahuakbar di musholla,allahuakbar di masjid tetapi dilapangan,dikantor bahkan di hotel sekalipun nafsu Akbar.
Yang kedua mereka menyatakan “my brand is my good”, otak ku adalah tuhan ku,dengan olah otak,imajinasi otak,melahirkan sains,dari sains melahirkan teknologi dan dari teknologi semua permasalahan didunia ini bisa diselesaikan dengan mudah.maka disaat itu manusia tidak lagi membutuhkan agama bahka titik kulminasinya “bukanlah Tuhan yang mengadakan manusia tetapi manusialah yang menada-adakan Tuhan.dengan alibi yang sangat nakal kemudian ia bertanya Kalau memang tuhan itu ada,maka dimanakan adanya? Kalau memang tuhan itu ada,kapan adanya? Telur ayam yang dulukah atau ayam yang dulukah baru ada telurnya.kalau memang tuhan itu ada,bagaimana wujudnya? Maka tidak mustahil ada agama yang mewujudkan tuhan,dalam bentuk benda-benda,hewan –hewan,manusia. Sangat unik kan? Tuhan dipersonifikasikan dalam bentuk manusia.kalau memang alam raya ini ciptaan tuhan dan itu pulalah yang menjadi alasan semua agama.lalu siapa yang menciptakan tuhan?. Pertanyaan-pertanyaan nakal ini akan kita jawab dalam pernyataan dibawah ini:

Dari dua pernyataan ini melahirkan dua pertanyaan,
Pertama yaitu jika agam tidak sangggup lagi menjawab kebutuhan umat manusia dan tidak lagi sesuai dengan zaman. Sebagai mana Karmac berkata”semua agama adalah cambuk” padahal thesis Karmac adalah pada satu agama dari kegagalan agama grejani pada saat itu.masih ingat? Tirani intelektual Firdano capernicus Galileo adalah tumbal dari tirani intelektual itu. Para grejani menganggap bumi sentries padahal dalam penelitian matahari sentries.ahli palensis antara ilmuan dan grejani dikala itu karena grejani berkuasa maka para ilmuan dihukum bahkan ada yang di baker hidup-hidup.dan ada juga tirani ekonomi bahwa para jemaat diharuskan membayar sebagian hartanya untuk kepentingan tuhan bapa diatas sana.tetapi malah digunakan untuk kepentingan pribadi kaum grejani,dan yang paling menyakitkan adalah tirani kepercayaan yaitu pengampunan dosa oleh Paus.sebesar apapun dosa manusia akan dapat diampuni asalkan mampu membayar surat pemngampunan dosa tsb.”atas nama sipulan bin pulan,bahwadosa nya diampuni dimasa kini,depan dan yang akan datng dan akan duduk berdampingan dengan tuhan bapa disana”.justru doktrin yang terakhir inilah yang menjadi pangkal haloganisme kebrutalan,walau pun banyak orang melakukan pelanggaran-pelanggaran agama toh bisa diampuni oleh tuhan.sekamin berani orang merampok toh juga tinggal di bayar.yang baik menjadi jahat dan yang jahat semakin menjadi-jadi jahatnya.
Kemudian Karmac kecewa dan menarik kesimpulan bahwa”agama tak ubahnya adalah seperti tirani dan penjara kehidupan”.lalu dengan tergopoh-gopoh mengatakan semua agama adalah cambuk,Baik kalau semua adalah cambuk,berarti Karmac berkata semua yang berkaki empat adalah kerbau,padahal bukan hanya kerbau yang berkaki empat ada anjing,kucing pun berkaki empat.berarti pasti ada satu kebenaran mutlak dari kebenaran musti.
Lalu manusia yang bagaimana yang harus memiliki agama,apakah manusia-manusia yang sudah cerdas tidak perlu agama.dalam artian lain agama hanyalah bagi orang-orang yang bodoh,orang-orang yang awam.lalu agama terkesan keterbelakangan.dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan nakal ini kita harus menjawab secara obyektif bukan subyektif.rasional bukan ilusional.berdasarkan otak bukan hati.apabila subyektif,ilusional,hati maka kebenaran yang di dapat adalah relative.semua agama adalah benar menurut kepercayaan nya masing-masing.memang benar karena menurut kepercayaan nya masing-masing akan tetapi hasilnya relative.tetapi secara rasional obyektif maka tidak mungkin semua agama benar,pasti ada kebenaran obyektif diantara kebenaran subyektif.
Baik,mari kita pelajari beberapa teori,
Pertama yaitu teori relativitas,terbatas oleh 4 keterbatasan yaitu ruang,waktu,daya dan guna.selama tercakup dari keterbatasan ini maka masih termasuk sifat alam raya.dan inilah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan nakal tadi,seperti dimana? Bearti terbatas dimensi tempat,kapan?berarti terbatas dimensi waktu,bagaimana?berarti terbatas dimensi daya dan guna. Maka siapa yang menciptakan tuhan? nah teori ini mengajarkan jawaban nya adalah tuhan. Siapa yang menciptakan tuhan?tuhan. yang menciptakan tuhan?tuhan. tiap kali berhenti dengan tuhan atau dihentikan dengan kata tuhan.maka tidak akan terbatas.nah teori ini mengajarkan bakwa tuhan itu tidak terbatas,tidak terbatas oleh dimensi waktu,tempat,daya dan guna.
Yang kedua teori non otomatik,dan bahwa di dunia ini tidak ada yang otomatis atau terjadi dengan sendirinya.dibalik wayang pasti ada dalang,dibalik film pasti ada sutradara,dibalik permainan pasti ada pemain.dan dibalik ciptaan pasti ada sang pencipta.maka mungkinkah rotasi,repolusi perputaran semesta alam yang menakjubkan para kosmolog hingga melahirkan ilmu pasti.tidak mungkin ruang kosmologi ini terjadi dengan sendirinya.berarti teori non otomatis ini mengajarkan bahwa dibalik ciptaan pasti ada sang pencipta.maka dengan mudah teori non otomatis ini menggugurkan teori ateis yang mentiadakan tuhan.
Ketiga yaitu teoi the most. Tinggi,paling tinggi tertinggi,paling tinggi.terkuasa,paling kuasa.termulia,paling mulia.hanya satu yang paling benar.hanya satu yang paling berkuasa.
Yang ketiga,teori nature power yaitu teori kekuatan natural.seperti contoh didalam tubuh kita ini ada roh,jasad adalah benda mati akan tetapi roh lah yang hidup.akan tetapi tidak ada satu orang propesor atau ilmuan pun yang dapat mendeteksi bentuk dan warna roh.
Dari ke empat teori ini silahkan kita cari kitab yang dianggap suci oleh umatnya?.jika ke empat teori ini ada didalam kitab tersebut maka kitab tersebut memang benar….
Menurut anda bagaimana?