Jakarta, Kompas -
”Pandangan semacam ini merupakan kesimpulan dari generalisasi yang sangat tak bisa dipertanggungjawabkan,” ujar guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Bahtiar Effendy, dalam diskusi ”Terorisme di Tengah Masyarakat Modern” di Jakarta, Kamis (13/8).
”Kita tidak bisa mengatakan orang yang belajar di pesantren merupakan teroris. Hanya karena pelaku peledak bom pernah belajar di Pesantren Ngruki yang diasuh Abu Bakar Ba’asyir,” ujar Bahtiar.
Jika logika generalisasi ini diikuti, menurut Bahtiar, karena Abu Bakar Ba’asyir yang pernah belajar di Pesantren Gontor, teman belajarnya juga dicurigai karena mempelajari buku dan kurikulum yang sama.
”Padahal, almarhum Nurcholish Madjid, Din Syamsuddin juga pernah menimba ilmu di Pesantren Gontor. Apakah mereka juga teroris?” katanya.
Produser senior Canadian Broadcasting Corporation, Nazim Baksh, mengatakan, untuk mengenali pelaku teror bisa dilakukan dengan melihat latar belakang di mana mereka pernah belajar. ”Kita bisa melihat siapa saja yang menanamkan pikiran radikal pada pelaku teror itu,” ujarnya.
Menurut Nazim, dengan mengetahui latar belakang lingkungan, akan bisa diketahui pola pikirnya sehingga bisa dilakukan langkah antisipasi.
”Lingkungan itu bisa keluarga, sekolah, dan masyarakatnya,” katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar